Sebuah studi baru menyarankan, pilihan pertama untuk
menyembuhkan insomnia kronis haruslah berupa terapi perilaku kognitif, yaitu
cara yang akan membantu tubuh menemukan siklus tidurnya kembali. Bukan memaksa
tubuh tidur dengan pengaruh obat.
Akan diperlukan lebih banyak waktu dan perjuangan untuk
mampu terlelap ketika menjalani terapi, ketimbang meminum pil tidur.
Tetapi american college of physicians menterangkan, bahwa
metode terapi yang dikenal dengan cognitive behavioral therapy (cbt) cukup
efektif dan tidak membawa efek samping layaknya pil tidur. Pengobatan ini
mengombinasikan terapi bicara, intervensi perilaku dan pendidikan.
Rekomendasi terapi ini ditujukan sebagai langkah pertama
pengobatan. Jika terapi tidak bekerja, maka barulah dokter mampu
mempertimbangkan untuk menyertai obat di dalamnya.
"Resep pil tidur bukanlah langkah pertama untuk para
penderita insomnia," kata dr. Thomas tape, kepala sakit umum di
universitas nebraska medical center.
“Namun akungnya, bagi banyak dokter, terapi ini belum
menjadi langkah pertama yang membisubil," katanya.
Hal tersebut mengenai dengan tantangan dalam mencari tenaga
kesehatan yang terlatih untuk menunjukkan terapi cbt kepada penderita insomnia.
Karena belum umum, terapi juga tidak selalu masuk dalam daftar penggantian
biaya kesehatan asuransi.
Menurut jurnal ilmiah yang diterbitkan dalam annals monday
menyimpulkan, pil tidur hanya efektif dimanfaatkan untuk insomnia jangka
pendek, sehingga efek penggunaan pil tidur lebih dari empat hingga lima minggu
belum diteliti dengan baik.
Sehingga, terapi dianggap sebagai cara yang paling aman
untuk menghindari efek samping obat yang mampu saja menyebabkan problem
kesehatan yang serius.
Food and drug administration dalam beberapa tahun terakhir
menurunkan dosis yang dianjurkan untuk pil tidur. Fda mengatakan, obat-obatan
tersebut mampu berada di peredaran darah cukup lama dan mengganggu aktivitas
yang memerlukan kewaspadaan dan konpusatsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar